Sabtu, 06 Desember 2014

KEUTAMAAN, HUKUM, WAKTU SERTA JUMLAH RAKAAT SHALAT DHUHA



SHALAT DHUHA
Pada post kali ini saya akan menjelaskan tentang shalat Dhuha. Shalat Dhuha merupakan salah satu dari beberapa ibadah sunnah Rasulullah saw.
Pembahasan ini terdiri dari beberapa permasalahan :
1. Keutamaan Shalat Dhuha
2. Hukum Shalat Dhuha
3. Waktu Shalat Dhuha
4. Jumlah Rakaat Shalat Dhuha dan Sifatnya
1.      Keutamaan  Shalat Dhuha

Mengenai keutamaan shalat Dhuha, telah diriwayatkan beberapa hadist yang diantaranya dapat saya sebagai berikut :
Dari Abu Dzarr ra, dari Nabi saw, beliau bersabda :

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى  (رواه مسلم، رقم 1181) . 
“Bagi tiap-tiap ruas dari anggota tubuh salah seorang diantara kalian harus dikeluarkan sedekahnya tiap pagi hari. Setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (La Ilaaha ilallaah) adalah sedekah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh untuk berbuat baik pun juga sedekah, dan mencegah kemungkaran juga sedekah. Dan semua itu bisa diganti/dicukupi dengan dua rakaat shalat Dhuha.”(H.R.Muslim).

Hadist Abud Darda’ dan Abu Dzarr ra, dari Rasulullah saw, dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, Dia berfirman : “Wahai anak Adam, ruku’lah untuk-Ku empat rakaat di awal siang, niscaya aku akan mencukupimu di akhir siang”(H.R. at-Tirmidzi).

Dari Abu Hurairah r.a, dia berkata: “Tidak ada yang memelihara shalat Dhuha, kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah (Awwaab).” Dia berkata: “Ia merupakan Shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah (Awwaabiin).” (H.R. Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).

2.      Hukum Shalat Dhuha

Hadist-hadist terdahulu dan yang semisalnya menjelaskan bahwa shalat Dhuha pada waktu dhuha (pagi hari) merupakan suatu hal yang baik lagi disukai.

Selain itu didalam hadist-hadist tersebut juga terkandung dalil yang menunjukkan disyari’atkannya bagi kaum Muslimin untuk senantiasa mengerjakanya.

Akan tetapi, ada riwayat yang menunjukkan diwajibkanya shalat Dhuha.

3.      Waktu Shalat Dhuha

Waktu Shalat Dhuha dimulai sejak terbit matahari sampai zawal (condong ke Barat). Adapun waktu terbaik untuk mengerjakan shalat Dhuha adalah pada saat matahari terik.

Dalil yang menunjukkan hal tersebut sebagai berikut:

Adapun permulaan waktunya, telah ditunjukkan oleh hadist Abud Darda’ dan Abu Dzarr r.a terdahulu. Letak penguatnya di dalam hadist tersebut adalah: “Ruku’lah untuk-Ku dari awal siang sebanyak empat rakaat.

Demikian juga riwayat yang datang dari Anas r.a, dia bercerita, Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa mengerjakan shalat Subuh berjamaah lalu duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit kemudian shalat dua rakaat, maka pahala shalat itu baginya seperti pahala haji dan umrah, sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya.”

Mengenai waktu utamanya, telah ditunjukkan oleh apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam, bahwasanya dia pernah melihat suatu kaum yang mengerjakan shalat Dhuha. Dia berkata: “Tentu mereka telah mengetahui bahwa shalat selain saat ini lebih baik? Sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda: “Shalat awwaabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah) adalah ketika anak-anak unta sudah merasa kepanasan. (H.R. Muslim)­­­­­­­

4.      Jumlah Rakaat Shalat Dhuha dan Sifatnya

Disyari’atkan kepada seorang Muslim untuk mengerjakan shalat Dhuha dengan dua, empat, enam, delapan, atau dua belas rakaat.
Adapun shalat Dhuha yang dikerjakan dua rakaat telah ditunjukkan oleh hadist Abu Dzar r.a, Rasulullah saw. bersabda :
“Bagi masing-masing ruas adri anggota tubuh salah seorang diantara kalian harus dikeluarkan sedekahnya setiap pagi hari. Semua itu bisa diganti dengan dua rakaat shalat Dhuha (H.R. Muslim)

Sementara shalat Dhuha yang dikerjakan empat rakaat telah ditunjukkan oleh Abud Darda’ dan Abu Dzarr r.a, dari Rasulullah saw, dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, Dia berfirman: “Wahai, anak Adam, ruku’lah untuk-Ku empat rakaat di awal siang, niscaya aku akan mencukupimu di akhir siang.” (H.R. at-Tirmidzi)
Sedang shalat Dhuha dikerjakan enam rakaat telah ditunjukkan oleh hadist Anas bin Malik r.a : “Bahwasanya Nabi saw pernah mengerjakan shalat Dhuha enam rakaat.” (H.R. at-Tirmidzi).
Shalat Dhuha yang dikerjakan delapan rakaat ditunjukkan oleh hadist Ummu Hani’, dia ercerita: “Pada masa pembebasan kota Mekkah, dia mendatangi Rasulullah saw ketika beliau berada diatas tempat tertunggi di Makkah. Rasulullah saw beranjak menuju tempat mandingan lalu Fatimah memasang tabir untuk beliau. Selanjutnya, Fatimah mengambil kain dan menyelimutkannya kepada beliau. Setelah itu, beliau mengerjakan Shalat Dhuha 8 rakaat. (H.R. asy-Syaikhani)

Adapun shalat Dhuha yang dikerjakan duabelas rakaat ditunjukkan oleh hadist Abud Darda’ r.a, dia bercerita, Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, niscaya dia tidak ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah. Barang siapa shalat empat rakaat, niscaya dia ditetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah. Barang siapa mengerjakan enam rakaat, dia akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barang siapa mengerjakan delapan rakaat, Allah akan menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk patuh. Barang siapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga. Tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah memiliki karunia yang yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai sedekah. Tidaklah Allah memberi karunia kepada seseorang yang lebih baik dari pada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya.” (H.R. ath-Thabrani)

Dapat saya katakan bahwa berdasarkan hadist-hadist ini kemutlakan riwayat yang disampaikan oleh Sayyidah ‘Aisyah r.a dapat diarahkan ke makna ini, yaitu ketika ditanya oleh Mu’adzah: “Berapa rakaat Rasulullah saw mengerjakan shalat Dhuha?” Dia menjawab: “Empat rakaat dan bisa juga lebih, sesuai kehendak Allah.

Dan shalat Dhuha yang dikerjakan dua rakaat dua rakaat, telah ditunjukkan oleh keumuman sabda Rasulullah saw: “Shalat malam dan siang itu dua rakaat dua rakaat.”

Seorang Muslim boleh mengerjakan shalat Dhuha empat rakaat secara berkesinambungan, sebagaimana layaknya shalat wajib empat rakaat. Sebuah amal yang kecil akan lebih baik apabila dikerjakan secara terus menerus dari pada amal yang besar tetapi tidak dikerjakan terus menerus. Wallahu a’lam.

MANFAAT BUAH CABAI



Manfaat Buah Cabai Bagi Kesehatan

Cabai merupakan salah satu bumbu masakan yang hampir sama sekali tidak pernah di tinggalkan dalam memasak sayuran, santan, tumis dan berbagai macam masakan lainnya yang ada di indonesia. Cabai atau cabe sendiri terdiri dari berbagai macam jenis, anda ingat ada cabai merah, cabai panjang, cabai rawit, dan jenis cabai hijau.
Dalam buah cabai tersimpan manfaat yang luar biasa bagi kesehatan tubuh kita. Cabai adalah salah satu komuditas para petani indonesia, para petani menanam cabai mengingat tanaman ini memiliki harga yang lumayan bagi ekonomi para petani cabai. di Palembang sendiri harga cabai pernah menembus angka 50 ribu rupiah perkilo gram.
Manfaat cabai bagi kesehatan
  1. Baik bagi kesehatan mata sebab mengandung vitamin A
  2. Sebagai buah antioksidan yang tinggi
  3. Mampu membantu menurunkan gejala demam
  4. Membantu menyembuhkan luka pada kulit tubuh
  5. Mencegah timbulnya penyakit  stroke penyumbatan pembuluh darah, impotensi, dan jantung koroner.
  6. Membantu meredakan flu dan pilek karena capsaicin dapat mengencerkan lendir.
  7. Membantu mengurangi sakit kepala
  8. Membantu menurunkan kadar kolesterol tubuh yang tinggi
  9. Salah satu sumber dari vitamin C
  10. Manfaat buah cabai Sebagai penghangat badan yang alami
  11.  Sebagai antibiotik alami
  12. Meningkatkan nafsu makan pengkonsumsinya
  13. Untuk mengatasi ketidaksuburan (infertilitas), afrodisiak, dan memperlambat proses penuaan
  14. Sebagai daya hambat terhadap pertumbuhan jamur Candida Albicans, yaitu jamur pada permukaan kulit
  15. Mengatasi gangguan rematik dan frostbite
  16. Daunnya bisa digiling untuk mengatasi sakit perut dan bisul
  17. Mengobati perut kembung (masuk angin)
  18. Memberikan kalsium dan fosfor untuk tubuh
Cukup banyak manfaat cabai ini, buah nya memang sangat enak di pandang dan cukup menggoda untuk kita konsumsi, namun hati hati rasa pedasnya akan membuat perut anda menjadi sakit dan mampu mengakibatkan diare. Jadi sebaiknya anda harus mengurangi jumlah cabai yang anda konsumsi jangan terlalu berlebihan.

Selasa, 02 Desember 2014

TOKOH-TOKOH TELADAN ISLAM

TOKOH-TOKOH TELADAN ISLAM

1.      BUYA HAMKA

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan singkatan HAMKA lahir di desa kampong molek, Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 M /13 Muharram 1362 H. Ketika berusia tujuh tahun ia dimasukkan ke Sekolah Desa belajar setiap paginya. Disamping itu sore harinya ia belajar di Diniyah School. Namun sejak dimasukkan ke Thawalib (sekolah yang didirikan ayahnya), ia tidak dapat lagi mengikuti pelajaran di Sekolah Desa. Selama belajar di Thawalib, Hamka lebih sering berada di perpustakaan umum milik gurunya, Zainuddin Labay  El Yunusy. Dari sinilah, ia leluasa membaca bermacam-macam buku, bahkan beberapa ia pinjam untuk dibawanya pulang. Pada usia 16 tahun ia merantau ke Jawa untuk menimba ilmu agama serta pergerakan dan organisasi. Disana ia berkesempatan mengikuti berbagai diskusi dan pelatihan pergerakan islam yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah, Syarikat Islam (SI) dan Masyumi. Secara otodidak HAMKA belajar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Setahun lamanya berada di Jawa, Hamka kembali lagi ke Padang Panjang dan ia aktif menulis di majalah pertamanya berjudul Chatibul Ummah, dan Majalah Tabligh Muhammadiyah, disamping itu ia pun menyempatkan berpidato di beberapa tempat di Padang Panjang.
Dengan semangat keilmuan yang tinggi dan dengan biaya sendiri tahun 1927 ia pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah hajinya sekaligus memperdalam ilmu agama dan bahasa arab. Ia menulis roman “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, yang terinspirasi dari perjalanannya ke Mekkah pada tahun 1927, kemudian Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Merantau ke Deli, Keadilan Ilahi, Tuan Direktur, Angkatan Baru, Terusir, Di Dalam Lembah Kehidupan, Ayahku, Tasawuf Modern, dan Falsafah Hidup. Karena pemikirannya terus berseberangan dengan pemerintah saat itu, maka tahun 1964 HAMKA dipenjara oleh Presiden Soekarno. Meski begitu, HAMKA tidak pernah sakit hati dan menaruh dendam terhadap Presiden Soekarno. Hal ini ditunjukannya ketika Soekarno wafat, justru HAMKA yang menjadi imam shalatnya.

Karakter HAMKA :
1.      Mandiri dan Bertanggungjawab
2.      Tahu diri, Perhatian, dan Empati
3.      Idealis dan Istiqamah
4.      Tegas dan Lugas
5.      Penyabar tidak dendam
6.      Demokratis dan Toleran

2.      MOHAMMAD NATSIR

Mohammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tepatnya pada tanggal 17 Juli 1908 ia merupakan anak dari pasangan Mohammad Idris Sutan Saripado serta Khadijah. Semangat keislamannya ini bannyak ditunjukkannya dalam berbagai tulisan dalam tulisannya dia membela dan mempertahankan islam dari serangan kaum nasionalis yang kurang mengerti islam. Natsir menolak ide sekularisasi dan westernisasi dan mempertahankan ide kesatuan agama dan Negara.
Mohammad Natsir banyak bergaul dengan pemikir-pemikir Islam. Ia juga banyak menguasai bahasa asing, seperti Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, Arab, serta Spanyol. Natsir kembali terlibat dalam organisasi-organisasi islam baik tingkat Nasional maupun Internasional seperti Majelis Ta’sisi Rabitah Alam Islami. M. Natsir selalu mengenjurkan masyarakat untuk senantiasa hidup sederhana, baik dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Sepanjang hidupnya Mohammad Natsir dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati sederhana dan bersahaja namun tegas dan disiplin.

Karakter M. Natsir
1.      Mandiri dan Bertanggungjawab
2.      Perhatian dan Empati
3.      Idealis dan Istiqamah
4.      Tegas dan Lugas
5.      Sederhana
6.      Penyabar tidak dendam
7.      Demokratis dan Toleran
8.      Haus dan cinta ilmu
9.      Disiplin waktu
10.  Memiliki rasa hormat, Rendah hati dan Penyantun.
11.  Memiliki kemauan yang keras untuk maju

3.      RAHMAH EL YUNUSIYAH
 
Rahmah El-Yunusiyah dilahirkan pada hari Jumat 20 Desember 1900 di Bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatera Barat, sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Dia lebih banyak belajar otodidak dan juga belajar langsung kepada kedua kakak laki-lakinya, Zainuddin Labay, dan Mohammad Rasyid serta ulama-ulama terkemuka lainnya. Rahmah dikenal sebagai sosok yang cerdas, lincah, menyukai hal-hal baru, dan memiliki tekad baja.
Jadi selain belajar ilmu agama, Rahmah juga belajar ilmu kebidanan dari salah seorang saudara ibunya dan menimba ilmu kesehatan dari beberapa orang dokter yang ada pada waktu itu. Rahmah El-Yunusiyah bertekad untuk mendirikan sekolah khusus bagi kaum perempuan. Pada tanggal 1 November 1923 berdirilah Madrasah Diniyah Li al-Banat, artinya sekolah khusus untuk anak-anak perempuan.

4.      MUSH’AB BIN UMAIR

Mush’ab lahir dan di besarkan dalam kesenangan dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Makkah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuannya sebagaimana yang dialami Mush’ab bin Umair.
Maka pada suatu senja, didorong oleh kerinduannya, pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para sahabatnya, mengajarkan mereka ayat-ayat Alquran dan mengejak mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Akbar. Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Alquran mulai mengalir di kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran di kalbunya.Ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majelis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui keislamannya.
Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan telah berbaibat kepada Rasulullah di Bukit Aqabah. Disamping itu, ia juga mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrah Rasulullah sebagai peristiwa besar.
Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa pikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk islam. Ketika tiba di Madinah pertama kali, ia mendapati kaum muslimin tidak lebih dari dua belas orang, yakni adalah orang-orang yang telah baiat di Bukit Aqabah. Namun beberapa bulan kemudian, meningkatlah jumlah orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

5.       FATHIMAH BINTI MUHAMMAD SAW

  Fatimah lahir di Makkah, 20 Jumadil Akhir 18 sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah atau  di tahun kelima dari kerasulannya. Kelahiran Fatimah disambut gembira oleh Rasulullah SAW dengan memberikan nama Fatimah dengan gelar Az-Zahra (wajah yang berseri-seri). Ia diberikan nama Fatimah oleh Rasulullah SAW karena Fatimah dan para pengikutnya akan terpelihara dari api neraka.
Ia menjadi wanita tangguh yang mendiri serta santun dalam membantu, merawat dan membela ayahnya Muhammad SAW. Fatimah merasakan satu tanggungjawab besar yang harus dipikulnya setelah kepergian ibunya. Semenjak itu secara tidak langsung ia menggantikan tempat ibunya dalam urusan rumah tangga. Dalam usia masih kanak-kanak Fatimah juga telah dihadapkan pada berbagai macam ujian. Diantaranya saat turunnya wahyu dan tugas berat yang diemban ayahnya. Beliau menyaksikan perlakuan keji kaum kafir Quraisy sehingga ia tidak tahan melihat penderitaan yang dialami ayahnya.
Fatimah salah satu wanita teladan umat Islam karena beliau yang paling dekat dan paling lama bersama Nabi Muhammad SAW. Ia juga dikenal sebagai seorang wanita yang fasih dan pintar. Ia banyak sekali meriwayatkan hadist dari ayahnya serta membantu umat Islam dalam hal hadist yang shahih. Pada suatu hari, ketika umur Fatimah belum mencecah sepuluh tahun, beliau telah menemani ayahnya ke Masjidil-Haram. Beliau berdiri di sisi ayahnya dan menghadap Ka’bah di tempat yang dikenali sebagai al-Hijr lalu menunaikan sembahyang. Fatimah Az-Zahra memiliki kepribadian yang sabar, dan penyayang dan tidak pernah melihat atau dilihat lelaki yang bukan mahramnya. Karena itu Fatimah Az-zahra lebih dikenal daripada putri-putri Rasulullah yang lainnya. Rasulullah sering sekali menyebutkan nama Fatimah diantaranya ketika berdakwah Rasulullah pernah berkata “Fatimah menyerupai bidadari yang menyerupai manusia, sesungguhnya dia adalah pemimpin wanita dunia dan penghuni syurga yang paling utama”. Bilal bin Rabah saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, Usamah bin Zaid, dan Bilal bin Rabah. Shalat Zhuhur tiba ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW, termasuk orang-orang Quraisy yang beru masuk islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah SAW memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana dengan suaranya yang bersih dan jelas.