TOKOH-TOKOH TELADAN ISLAM
1.
BUYA
HAMKA
Haji Abdul Malik Karim
Amrullah atau lebih dikenal dengan singkatan HAMKA lahir di desa kampong molek,
Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 M /13 Muharram 1362
H. Ketika berusia tujuh tahun ia dimasukkan ke Sekolah Desa belajar setiap paginya.
Disamping itu sore harinya ia belajar di Diniyah School. Namun sejak dimasukkan
ke Thawalib (sekolah yang didirikan ayahnya), ia tidak dapat lagi mengikuti
pelajaran di Sekolah Desa. Selama belajar di Thawalib, Hamka lebih sering
berada di perpustakaan umum milik gurunya, Zainuddin Labay El Yunusy. Dari sinilah, ia leluasa membaca
bermacam-macam buku, bahkan beberapa ia pinjam untuk dibawanya pulang. Pada
usia 16 tahun ia merantau ke Jawa untuk menimba ilmu agama serta pergerakan dan
organisasi. Disana ia berkesempatan mengikuti berbagai diskusi dan pelatihan
pergerakan islam yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah, Syarikat Islam (SI)
dan Masyumi. Secara otodidak HAMKA belajar dalam berbagai bidang ilmu
pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik
Islam maupun Barat. Setahun lamanya berada di Jawa, Hamka kembali lagi ke
Padang Panjang dan ia aktif menulis di majalah pertamanya berjudul Chatibul
Ummah, dan Majalah Tabligh Muhammadiyah, disamping itu ia pun menyempatkan berpidato
di beberapa tempat di Padang Panjang.
Dengan semangat keilmuan
yang tinggi dan dengan biaya sendiri tahun 1927 ia pergi ke Mekkah untuk
menunaikan ibadah hajinya sekaligus memperdalam ilmu agama dan bahasa arab. Ia
menulis roman “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, yang terinspirasi dari perjalanannya
ke Mekkah pada tahun 1927, kemudian Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Merantau
ke Deli, Keadilan Ilahi, Tuan Direktur, Angkatan Baru, Terusir, Di Dalam Lembah
Kehidupan, Ayahku, Tasawuf Modern, dan Falsafah Hidup. Karena pemikirannya
terus berseberangan dengan pemerintah saat itu, maka tahun 1964 HAMKA dipenjara
oleh Presiden Soekarno. Meski begitu, HAMKA tidak pernah sakit hati dan menaruh
dendam terhadap Presiden Soekarno. Hal ini ditunjukannya ketika Soekarno wafat,
justru HAMKA yang menjadi imam shalatnya.
Karakter HAMKA :
1. Mandiri
dan Bertanggungjawab
2. Tahu
diri, Perhatian, dan Empati
3. Idealis
dan Istiqamah
4. Tegas
dan Lugas
5. Penyabar
tidak dendam
6. Demokratis
dan Toleran
2.
MOHAMMAD
NATSIR
Mohammad Natsir lahir di
Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tepatnya pada
tanggal 17 Juli 1908 ia merupakan anak dari pasangan Mohammad Idris Sutan
Saripado serta Khadijah. Semangat keislamannya ini bannyak ditunjukkannya dalam
berbagai tulisan dalam tulisannya dia membela dan mempertahankan islam dari
serangan kaum nasionalis yang kurang mengerti islam. Natsir menolak ide
sekularisasi dan westernisasi dan mempertahankan ide kesatuan agama dan Negara.
Mohammad Natsir banyak bergaul
dengan pemikir-pemikir Islam. Ia juga banyak menguasai bahasa asing, seperti
Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, Arab, serta Spanyol. Natsir kembali
terlibat dalam organisasi-organisasi islam baik tingkat Nasional maupun
Internasional seperti Majelis Ta’sisi Rabitah Alam Islami. M. Natsir selalu
mengenjurkan masyarakat untuk senantiasa hidup sederhana, baik dalam kehidupan
pribadi maupun bermasyarakat. Sepanjang hidupnya Mohammad Natsir dikenal
sebagai pemimpin yang rendah hati sederhana dan bersahaja namun tegas dan
disiplin.
Karakter M. Natsir
1. Mandiri
dan Bertanggungjawab
2. Perhatian
dan Empati
3. Idealis
dan Istiqamah
4. Tegas
dan Lugas
5. Sederhana
6. Penyabar
tidak dendam
7. Demokratis
dan Toleran
8. Haus
dan cinta ilmu
9. Disiplin
waktu
10. Memiliki
rasa hormat, Rendah hati dan Penyantun.
11. Memiliki
kemauan yang keras untuk maju
3.
RAHMAH
EL YUNUSIYAH
Rahmah El-Yunusiyah
dilahirkan pada hari Jumat 20 Desember 1900 di Bukit Surungan, Padang Panjang,
Sumatera Barat, sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Dia lebih banyak belajar
otodidak dan juga belajar langsung kepada kedua kakak laki-lakinya, Zainuddin
Labay, dan Mohammad Rasyid serta ulama-ulama terkemuka lainnya. Rahmah dikenal
sebagai sosok yang cerdas, lincah, menyukai hal-hal baru, dan memiliki tekad
baja.
Jadi selain belajar ilmu
agama, Rahmah juga belajar ilmu kebidanan dari salah seorang saudara ibunya dan
menimba ilmu kesehatan dari beberapa orang dokter yang ada pada waktu itu.
Rahmah El-Yunusiyah bertekad untuk mendirikan sekolah khusus bagi kaum
perempuan. Pada tanggal 1 November 1923 berdirilah Madrasah Diniyah Li al-Banat, artinya sekolah khusus untuk
anak-anak perempuan.
4.
MUSH’AB
BIN UMAIR
Mush’ab lahir dan di
besarkan dalam kesenangan dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorang
pun di antara anak-anak muda Makkah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang
tuannya sebagaimana yang dialami Mush’ab bin Umair.
Maka pada suatu senja,
didorong oleh kerinduannya, pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu.
Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para sahabatnya,
mengajarkan mereka ayat-ayat Alquran dan mengejak mereka beribadah kepada Allah
Yang Maha Akbar. Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Alquran
mulai mengalir di kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke
telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona
oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran di kalbunya.Ia senantiasa
bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majelis Rasulullah, sedang hatinya merasa
bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang
belum mengetahui keislamannya.
Suatu saat Mush’ab dipilih
Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta
atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan agama Islam kepada orang-orang
Anshar yang telah beriman dan telah berbaibat kepada Rasulullah di Bukit
Aqabah. Disamping itu, ia juga mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut
hijrah Rasulullah sebagai peristiwa besar.
Mush’ab memikul amanat itu
dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa pikiran yang cerdas dan budi yang
luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil
melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk
islam. Ketika tiba di Madinah pertama kali, ia mendapati kaum muslimin tidak
lebih dari dua belas orang, yakni adalah orang-orang yang telah baiat di Bukit
Aqabah. Namun beberapa bulan kemudian, meningkatlah jumlah orang-orang yang
memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.
5.
FATHIMAH BINTI MUHAMMAD SAW
Fatimah lahir di Makkah, 20 Jumadil Akhir 18 sebelum
Nabi Muhammad SAW hijrah atau di tahun kelima dari kerasulannya. Kelahiran
Fatimah disambut gembira oleh Rasulullah SAW dengan memberikan nama Fatimah dengan
gelar Az-Zahra (wajah yang berseri-seri). Ia diberikan nama Fatimah oleh
Rasulullah SAW karena Fatimah dan para pengikutnya akan terpelihara dari api
neraka.
Ia menjadi wanita tangguh yang mendiri serta santun
dalam membantu, merawat dan membela ayahnya Muhammad SAW. Fatimah merasakan satu
tanggungjawab besar yang harus dipikulnya setelah kepergian ibunya. Semenjak
itu secara tidak langsung ia menggantikan tempat ibunya dalam urusan rumah
tangga. Dalam usia masih kanak-kanak Fatimah juga telah dihadapkan pada
berbagai macam ujian. Diantaranya saat turunnya wahyu dan tugas berat yang
diemban ayahnya. Beliau menyaksikan perlakuan keji kaum kafir Quraisy sehingga
ia tidak tahan melihat penderitaan yang dialami ayahnya.
Fatimah
salah satu wanita teladan umat Islam karena beliau yang paling dekat dan paling
lama bersama Nabi Muhammad SAW. Ia juga dikenal sebagai seorang wanita yang
fasih dan pintar. Ia banyak sekali meriwayatkan hadist dari ayahnya serta
membantu umat Islam dalam hal hadist yang shahih. Pada suatu hari, ketika umur
Fatimah belum mencecah sepuluh tahun, beliau telah menemani ayahnya ke
Masjidil-Haram. Beliau berdiri di sisi ayahnya dan menghadap Ka’bah di tempat
yang dikenali sebagai al-Hijr lalu menunaikan sembahyang. Fatimah Az-Zahra
memiliki kepribadian yang sabar, dan penyayang dan tidak pernah melihat atau
dilihat lelaki yang bukan mahramnya. Karena itu Fatimah Az-zahra lebih dikenal
daripada putri-putri Rasulullah yang lainnya. Rasulullah sering sekali
menyebutkan nama Fatimah diantaranya ketika berdakwah Rasulullah pernah berkata
“Fatimah menyerupai bidadari yang menyerupai manusia, sesungguhnya dia adalah
pemimpin wanita dunia dan penghuni syurga yang paling utama”. Bilal bin Rabah
saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin
Thalhah, Usamah bin Zaid, dan Bilal bin Rabah. Shalat Zhuhur tiba ribuan orang
berkumpul di sekitar Rasulullah SAW, termasuk orang-orang Quraisy yang beru
masuk islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya
menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah
itu, Rasulullah SAW memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk
mengumandangkan kalimat tauhid dari sana dengan suaranya yang bersih dan jelas.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih Anda telah memberi komentar.