Selasa, 02 Desember 2014

TOKOH-TOKOH TELADAN ISLAM

TOKOH-TOKOH TELADAN ISLAM

1.      BUYA HAMKA

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan singkatan HAMKA lahir di desa kampong molek, Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 M /13 Muharram 1362 H. Ketika berusia tujuh tahun ia dimasukkan ke Sekolah Desa belajar setiap paginya. Disamping itu sore harinya ia belajar di Diniyah School. Namun sejak dimasukkan ke Thawalib (sekolah yang didirikan ayahnya), ia tidak dapat lagi mengikuti pelajaran di Sekolah Desa. Selama belajar di Thawalib, Hamka lebih sering berada di perpustakaan umum milik gurunya, Zainuddin Labay  El Yunusy. Dari sinilah, ia leluasa membaca bermacam-macam buku, bahkan beberapa ia pinjam untuk dibawanya pulang. Pada usia 16 tahun ia merantau ke Jawa untuk menimba ilmu agama serta pergerakan dan organisasi. Disana ia berkesempatan mengikuti berbagai diskusi dan pelatihan pergerakan islam yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah, Syarikat Islam (SI) dan Masyumi. Secara otodidak HAMKA belajar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Setahun lamanya berada di Jawa, Hamka kembali lagi ke Padang Panjang dan ia aktif menulis di majalah pertamanya berjudul Chatibul Ummah, dan Majalah Tabligh Muhammadiyah, disamping itu ia pun menyempatkan berpidato di beberapa tempat di Padang Panjang.
Dengan semangat keilmuan yang tinggi dan dengan biaya sendiri tahun 1927 ia pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah hajinya sekaligus memperdalam ilmu agama dan bahasa arab. Ia menulis roman “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, yang terinspirasi dari perjalanannya ke Mekkah pada tahun 1927, kemudian Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Merantau ke Deli, Keadilan Ilahi, Tuan Direktur, Angkatan Baru, Terusir, Di Dalam Lembah Kehidupan, Ayahku, Tasawuf Modern, dan Falsafah Hidup. Karena pemikirannya terus berseberangan dengan pemerintah saat itu, maka tahun 1964 HAMKA dipenjara oleh Presiden Soekarno. Meski begitu, HAMKA tidak pernah sakit hati dan menaruh dendam terhadap Presiden Soekarno. Hal ini ditunjukannya ketika Soekarno wafat, justru HAMKA yang menjadi imam shalatnya.

Karakter HAMKA :
1.      Mandiri dan Bertanggungjawab
2.      Tahu diri, Perhatian, dan Empati
3.      Idealis dan Istiqamah
4.      Tegas dan Lugas
5.      Penyabar tidak dendam
6.      Demokratis dan Toleran

2.      MOHAMMAD NATSIR

Mohammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tepatnya pada tanggal 17 Juli 1908 ia merupakan anak dari pasangan Mohammad Idris Sutan Saripado serta Khadijah. Semangat keislamannya ini bannyak ditunjukkannya dalam berbagai tulisan dalam tulisannya dia membela dan mempertahankan islam dari serangan kaum nasionalis yang kurang mengerti islam. Natsir menolak ide sekularisasi dan westernisasi dan mempertahankan ide kesatuan agama dan Negara.
Mohammad Natsir banyak bergaul dengan pemikir-pemikir Islam. Ia juga banyak menguasai bahasa asing, seperti Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, Arab, serta Spanyol. Natsir kembali terlibat dalam organisasi-organisasi islam baik tingkat Nasional maupun Internasional seperti Majelis Ta’sisi Rabitah Alam Islami. M. Natsir selalu mengenjurkan masyarakat untuk senantiasa hidup sederhana, baik dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Sepanjang hidupnya Mohammad Natsir dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati sederhana dan bersahaja namun tegas dan disiplin.

Karakter M. Natsir
1.      Mandiri dan Bertanggungjawab
2.      Perhatian dan Empati
3.      Idealis dan Istiqamah
4.      Tegas dan Lugas
5.      Sederhana
6.      Penyabar tidak dendam
7.      Demokratis dan Toleran
8.      Haus dan cinta ilmu
9.      Disiplin waktu
10.  Memiliki rasa hormat, Rendah hati dan Penyantun.
11.  Memiliki kemauan yang keras untuk maju

3.      RAHMAH EL YUNUSIYAH
 
Rahmah El-Yunusiyah dilahirkan pada hari Jumat 20 Desember 1900 di Bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatera Barat, sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Dia lebih banyak belajar otodidak dan juga belajar langsung kepada kedua kakak laki-lakinya, Zainuddin Labay, dan Mohammad Rasyid serta ulama-ulama terkemuka lainnya. Rahmah dikenal sebagai sosok yang cerdas, lincah, menyukai hal-hal baru, dan memiliki tekad baja.
Jadi selain belajar ilmu agama, Rahmah juga belajar ilmu kebidanan dari salah seorang saudara ibunya dan menimba ilmu kesehatan dari beberapa orang dokter yang ada pada waktu itu. Rahmah El-Yunusiyah bertekad untuk mendirikan sekolah khusus bagi kaum perempuan. Pada tanggal 1 November 1923 berdirilah Madrasah Diniyah Li al-Banat, artinya sekolah khusus untuk anak-anak perempuan.

4.      MUSH’AB BIN UMAIR

Mush’ab lahir dan di besarkan dalam kesenangan dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Makkah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuannya sebagaimana yang dialami Mush’ab bin Umair.
Maka pada suatu senja, didorong oleh kerinduannya, pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para sahabatnya, mengajarkan mereka ayat-ayat Alquran dan mengejak mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Akbar. Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Alquran mulai mengalir di kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran di kalbunya.Ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majelis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui keislamannya.
Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan telah berbaibat kepada Rasulullah di Bukit Aqabah. Disamping itu, ia juga mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrah Rasulullah sebagai peristiwa besar.
Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa pikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk islam. Ketika tiba di Madinah pertama kali, ia mendapati kaum muslimin tidak lebih dari dua belas orang, yakni adalah orang-orang yang telah baiat di Bukit Aqabah. Namun beberapa bulan kemudian, meningkatlah jumlah orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

5.       FATHIMAH BINTI MUHAMMAD SAW

  Fatimah lahir di Makkah, 20 Jumadil Akhir 18 sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah atau  di tahun kelima dari kerasulannya. Kelahiran Fatimah disambut gembira oleh Rasulullah SAW dengan memberikan nama Fatimah dengan gelar Az-Zahra (wajah yang berseri-seri). Ia diberikan nama Fatimah oleh Rasulullah SAW karena Fatimah dan para pengikutnya akan terpelihara dari api neraka.
Ia menjadi wanita tangguh yang mendiri serta santun dalam membantu, merawat dan membela ayahnya Muhammad SAW. Fatimah merasakan satu tanggungjawab besar yang harus dipikulnya setelah kepergian ibunya. Semenjak itu secara tidak langsung ia menggantikan tempat ibunya dalam urusan rumah tangga. Dalam usia masih kanak-kanak Fatimah juga telah dihadapkan pada berbagai macam ujian. Diantaranya saat turunnya wahyu dan tugas berat yang diemban ayahnya. Beliau menyaksikan perlakuan keji kaum kafir Quraisy sehingga ia tidak tahan melihat penderitaan yang dialami ayahnya.
Fatimah salah satu wanita teladan umat Islam karena beliau yang paling dekat dan paling lama bersama Nabi Muhammad SAW. Ia juga dikenal sebagai seorang wanita yang fasih dan pintar. Ia banyak sekali meriwayatkan hadist dari ayahnya serta membantu umat Islam dalam hal hadist yang shahih. Pada suatu hari, ketika umur Fatimah belum mencecah sepuluh tahun, beliau telah menemani ayahnya ke Masjidil-Haram. Beliau berdiri di sisi ayahnya dan menghadap Ka’bah di tempat yang dikenali sebagai al-Hijr lalu menunaikan sembahyang. Fatimah Az-Zahra memiliki kepribadian yang sabar, dan penyayang dan tidak pernah melihat atau dilihat lelaki yang bukan mahramnya. Karena itu Fatimah Az-zahra lebih dikenal daripada putri-putri Rasulullah yang lainnya. Rasulullah sering sekali menyebutkan nama Fatimah diantaranya ketika berdakwah Rasulullah pernah berkata “Fatimah menyerupai bidadari yang menyerupai manusia, sesungguhnya dia adalah pemimpin wanita dunia dan penghuni syurga yang paling utama”. Bilal bin Rabah saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, Usamah bin Zaid, dan Bilal bin Rabah. Shalat Zhuhur tiba ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW, termasuk orang-orang Quraisy yang beru masuk islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah SAW memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana dengan suaranya yang bersih dan jelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih Anda telah memberi komentar.