SHALAT
DHUHA
Pada post kali ini saya akan menjelaskan tentang
shalat Dhuha. Shalat Dhuha merupakan salah satu dari beberapa ibadah sunnah
Rasulullah saw.
Pembahasan ini terdiri dari beberapa permasalahan :
1. Keutamaan Shalat Dhuha
2. Hukum Shalat Dhuha
3. Waktu Shalat Dhuha
4. Jumlah Rakaat Shalat Dhuha dan Sifatnya
1.
Keutamaan
Shalat Dhuha
Mengenai keutamaan shalat Dhuha, telah diriwayatkan
beberapa hadist yang diantaranya dapat saya sebagai berikut :
Dari Abu Dzarr ra, dari Nabi saw, beliau bersabda :
يُصْبِحُ
عَلَى كُلِّ سُلامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ
تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ
وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وَيُجْزِئُ
مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى (رواه مسلم، رقم 1181)
.
“Bagi tiap-tiap ruas dari anggota tubuh salah seorang
diantara kalian harus dikeluarkan sedekahnya tiap pagi hari. Setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap
tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (La Ilaaha ilallaah)
adalah sedekah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh untuk
berbuat baik pun juga sedekah, dan mencegah kemungkaran juga sedekah. Dan semua
itu bisa diganti/dicukupi dengan dua rakaat shalat Dhuha.”(H.R.Muslim).
Hadist Abud Darda’ dan Abu Dzarr ra, dari Rasulullah
saw, dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, Dia berfirman : “Wahai anak
Adam, ruku’lah untuk-Ku empat rakaat di awal siang, niscaya aku akan
mencukupimu di akhir siang”(H.R. at-Tirmidzi).
Dari Abu Hurairah r.a, dia berkata: “Tidak ada yang
memelihara shalat Dhuha, kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah (Awwaab).” Dia berkata: “Ia merupakan
Shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah (Awwaabiin).” (H.R. Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).
2.
Hukum
Shalat Dhuha
Hadist-hadist terdahulu dan yang semisalnya
menjelaskan bahwa shalat Dhuha pada waktu dhuha (pagi hari) merupakan suatu hal
yang baik lagi disukai.
Selain itu didalam hadist-hadist tersebut juga
terkandung dalil yang menunjukkan disyari’atkannya bagi kaum Muslimin untuk
senantiasa mengerjakanya.
Akan tetapi, ada riwayat yang menunjukkan diwajibkanya
shalat Dhuha.
3.
Waktu
Shalat Dhuha
Waktu Shalat Dhuha dimulai sejak terbit matahari
sampai zawal (condong ke Barat).
Adapun waktu terbaik untuk mengerjakan shalat Dhuha adalah pada saat matahari
terik.
Dalil yang menunjukkan hal tersebut sebagai berikut:
Adapun permulaan waktunya, telah ditunjukkan oleh
hadist Abud Darda’ dan Abu Dzarr r.a terdahulu. Letak penguatnya di dalam
hadist tersebut adalah: “Ruku’lah untuk-Ku dari awal siang sebanyak empat
rakaat.
Demikian juga riwayat yang datang dari Anas r.a, dia
bercerita, Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa mengerjakan shalat Subuh
berjamaah lalu duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit kemudian
shalat dua rakaat, maka pahala shalat itu baginya seperti pahala haji dan
umrah, sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya.”
Mengenai waktu utamanya, telah ditunjukkan oleh apa
yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam, bahwasanya dia pernah melihat suatu kaum
yang mengerjakan shalat Dhuha. Dia berkata: “Tentu mereka telah mengetahui bahwa
shalat selain saat ini lebih baik? Sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda: “Shalat
awwaabiin (orang-orang yang kembali
kepada Allah) adalah ketika anak-anak unta sudah merasa kepanasan. (H.R.
Muslim)
4.
Jumlah
Rakaat Shalat Dhuha dan Sifatnya
Disyari’atkan kepada seorang Muslim untuk mengerjakan
shalat Dhuha dengan dua, empat, enam, delapan, atau dua belas rakaat.
Adapun shalat Dhuha yang dikerjakan dua rakaat telah
ditunjukkan oleh hadist Abu Dzar r.a, Rasulullah saw. bersabda :
“Bagi masing-masing ruas adri anggota tubuh salah
seorang diantara kalian harus dikeluarkan sedekahnya setiap pagi hari. Semua
itu bisa diganti dengan dua rakaat shalat Dhuha (H.R. Muslim)
Sementara shalat Dhuha yang dikerjakan empat rakaat
telah ditunjukkan oleh Abud Darda’ dan Abu Dzarr r.a, dari Rasulullah saw, dari
Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, Dia berfirman: “Wahai, anak Adam,
ruku’lah untuk-Ku empat rakaat di awal siang, niscaya aku akan mencukupimu di
akhir siang.” (H.R. at-Tirmidzi)
Sedang shalat Dhuha dikerjakan enam rakaat telah
ditunjukkan oleh hadist Anas bin Malik r.a : “Bahwasanya Nabi saw pernah mengerjakan
shalat Dhuha enam rakaat.” (H.R. at-Tirmidzi).
Shalat Dhuha yang dikerjakan delapan rakaat
ditunjukkan oleh hadist Ummu Hani’, dia ercerita: “Pada masa pembebasan kota
Mekkah, dia mendatangi Rasulullah saw ketika beliau berada diatas tempat tertunggi
di Makkah. Rasulullah saw beranjak menuju tempat mandingan lalu Fatimah
memasang tabir untuk beliau. Selanjutnya, Fatimah mengambil kain dan
menyelimutkannya kepada beliau. Setelah itu, beliau mengerjakan Shalat Dhuha 8
rakaat. (H.R. asy-Syaikhani)
Adapun shalat Dhuha yang dikerjakan duabelas rakaat
ditunjukkan oleh hadist Abud Darda’ r.a, dia bercerita, Rasulullah saw
bersabda: “Barang siapa mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, niscaya dia tidak
ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah. Barang siapa shalat empat rakaat,
niscaya dia ditetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah. Barang siapa
mengerjakan enam rakaat, dia akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barang siapa
mengerjakan delapan rakaat, Allah akan menetapkannya termasuk orang-orang yang
tunduk patuh. Barang siapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, Allah akan
membangunkan baginya sebuah rumah di Surga. Tidaklah satu hari dan tidak juga
satu malam, melainkan Allah memiliki karunia yang yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya
sebagai sedekah. Tidaklah Allah memberi karunia kepada seseorang yang lebih
baik dari pada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya.” (H.R. ath-Thabrani)
Dapat saya katakan bahwa berdasarkan hadist-hadist ini
kemutlakan riwayat yang disampaikan oleh Sayyidah ‘Aisyah r.a dapat diarahkan
ke makna ini, yaitu ketika ditanya oleh Mu’adzah: “Berapa rakaat Rasulullah saw
mengerjakan shalat Dhuha?” Dia menjawab: “Empat rakaat dan bisa juga lebih,
sesuai kehendak Allah.
Dan shalat Dhuha yang dikerjakan dua rakaat dua
rakaat, telah ditunjukkan oleh keumuman sabda Rasulullah saw: “Shalat malam dan
siang itu dua rakaat dua rakaat.”
Seorang Muslim boleh mengerjakan shalat Dhuha empat
rakaat secara berkesinambungan, sebagaimana layaknya shalat wajib empat rakaat.
Sebuah
amal yang kecil akan lebih baik apabila dikerjakan secara terus menerus dari
pada amal yang besar tetapi tidak dikerjakan terus menerus. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih Anda telah memberi komentar.